Anak Gunung Sinaji Merajut Jiwa

Awal 1957, punggung Gunung Sinaji tampak suram sekalipun terik matahari begitu terasa membakar. Tidak ada pesta kembang api yang mewarnai hari itu, selain jeritan dan teriakan histeris orang-orang yang berlarian ke luar kampung yang sedang menyala dilalap api, akibat serbuan pemberontak DI/TII pimpinan Kahar Muzakar. Siti Hanifah tampak di antara para pengungsi. Sekalipun sedang berbadan dua, demi melindungi janin dalam kandungannya serta menyelamatkan dirinya, dia ikut berjuang untuk sampai ke lembah timur Gunung Sinaji, Bastem, Palopo, Sulawesi Selatan.

Di tempat pengungsian yang sangat terbatas, Siti Hanifah pun bertarung antara hidup dan mati untuk dapat melahirkan bayinya dengan selamat. Rasa lelah setelah mengungsi, tidak mengurangi semangatnya untuk menimang bayi mungilnya. Lahirnya anak laki-laki hitam manis memberikan penghiburan luar biasa bagi dia dan suaminya, Mohammad Pasiangan. Anak laki-laki yang lahir pada 2 Januari 1957 itu diberi nama Abdullah Hafid Pasiangan.

Abdullah yang berarti Abdi atau hamba Allah, dan Hafid yang berarti Pelindung atau Pemelihara. Secara penuh, nama pemberian orang tua itu berarti “Hamba Allah yang selalu memberi perlindungan”.

Nama ibarat sebuah doa yang dipanjatkan orang tua.
Seberkas harapan digantungkan pada sang empunya nama.

Di kemudian hari, nama itulah yang membentuk jiwa Hafid untuk selalu ingin melindungi, memelihara dan memberi rasa aman, bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk orang lain.

Tumbuh Dalam Masa Darurat
Tidak ada setumpuk baju dan perlengkapan bayi lainnya, ataupun susu formula yang menemani sang bayi mungil. Hanya ada sebuah tikar kumal dan selimut koyak milik sang ibu yang memberikan kehangatan di tubuh bayi Hafid. Selain berjuang melawan dinginnya angin pegunungan di malam hari, ibu dan bayi harus berjuang melawan serbuan nyamuk hutan.

Situasi yang darurat di tempat pengungsian juga memunculkan masalah lain. Asupan makan bergizi yang seharusnya dapat dinikmati oleh ibu-ibu yang sedang menyusui sulit didapat. Yang ada hanyalah singkong dan ubi hutan. Nasi merupakan makanan yang langka. “Guna menopang hidup sehari-hari di lingkungan hutan, mau tidak mau, ibu pun harus ikut bekerja keras membantu ayah menggarap lahan tani,” ujar Hafid. Syukurlah Hafid dikaruniai tubuh yang kuat, sehingga dalam segala keterbatasan tersebut Hafid dapat bertumbuh baik tanpa menyusahkan kedua orang tuanya.

Makanan sehari-hari Hafid, selain air susu ibu yang kurang lancar adalah air rebusan ubi atau singkong yang berbentuk tajin. Keadaan itu bukan hanya dialami oleh keluarga Siti Hanifah. Para pengungsi umumnya lari tanpa sempat membawa harta benda mereka. Dengan modal NOL dan saling bekerja sama semua berusaha membangun kehidupan baru di daerah pengungsian. Kerja keras dan kreatif mencari cara untuk menyambung hidup dengan memanfaatkan segala yang ada yang disediakan alam adalah satu-satunya upaya mereka.

Tak jarang Siti Hanifah tergugah emosinya dan bertanya-tanya sendiri. “Mengapa keluarga kita harus mengalami cobaan yang seberat ini?” Pertanyaan senada sering mencuat dan lebih meresahkan hati Siti Hanifah apabila dia mengenang harta dan semua kenyamanan hidup yang sudah mereka perjuangkan bertahun-tahun, yang hilang begitu saja dibalik lidah-lidah api yang melalap kampung mereka. Apalagi mereka adalah Kepala Kampung.

Namun, Mohamad Pasiangan –sebagai seorang pemimpin keluarga yang bijaksana—berusaha menguatkan isterinya agar tetap bersabar dan belajar hidup bersyukur dalam keadaan apa pun. “Ayah mengingatkan bahwa masih banyak orang lain yang mengalami kesulitan hidup yang jauh lebih besar,” ujar Hafid mengenang masa kecilnya.

Hafid mengalami beberapa kali harus pindah dari satu gua ke gua lainnya selama mengungsi. Di tengah masa-masa suram tersebut, kedua orang tua Hafid tetap berusaha tawakal dan tidak melarikan diri dari kenyataan hidup. Di tengah ketidakpastian hidup dan masa depan yang tidak jelas, Hafid terus bertumbuh dalam perlindungan orang tua yang sederhana. Justru kesulitan demi kesulitan yang mereka hadapi membuat semangat juang mereka semakin bangkit.

Sepuluh tahun lamanya Hafid tumbuh di tengah suasana tersebut.

Kenangan yang paling melekat dalam benak Hafid selama di pengungsian adalah hadirnya Pak Abidin di tengah keluarga. Pak Abidin adalah tentara dari pasukan Siliwangi yang saat itu ditugaskan di Bastem. Karena menikah dengan salah seorang kerabat dari keluarga Siti Hanifah, Hafid akhirnya memiliki hubungan yang cukup dekat dengan Pak Abidin. Dialah yang sering mengajak Hafid ikut serta dalam patroli keamanan di sekitar wilayah di mana mereka tinggal.

Dalam benak Hafid kecil waktu itu, muncul kekaguman yang dalam terhadap figur seorang tentara. Melihat penampilan mereka yang gagah dalam seragamnya, bahkan juga ketika mengangkat senjata mereka, diam-diam Hafid mulai menggambarkan suatu imajinasi profil tentara yang mengagumkan.

Lewat pengalaman tersebut, jiwa kecil Hafid mulai merajut angan-angan tentang masa depannya. Setiap kali mengenang pasukan tentara dalam lingkungan kerja Pak Abidin, Hafid kecil begitu bergairah membayangkan dirinya dalam seragam ketentaraan. Melewati 10 tahun di pengungsian tanpa kesempatan mengenyam pendidikan di sekolah, Hafid bertumbuh. Cita-citanya pun telah merebak. Apa daya, kenyataan waktu itu memang berbeda.