Perbedaan merupakan sebuah harmoni yang Indah. Begitulah pandangan dan pemikiran Hafid yang sejak kecil sudah terbiasa hidup di dalam perbedaan. Hafid bukannya tanpa fakta mengungkapkan pemikirannya ini. Ia melewati masa pendidikan dasarnya di SD Kristen. Hal ini dikarenakan desa di mana ia tinggal saat itu belum menyediakan sarana sekolah negeri. Hampir separo dari penduduk di daerah di mana Hafid dibesarkan juga adalah pemeluk Nasrani. Dengan demikian, sebagaimana umumnya anak kecil yang polos dan tulus, Hafid besar dan bersosialisasi dengan lingkungannya yang plural tanpa memandang latar belakang. “Sewaktu sekolah, saya juga sering mendapat giliran memimpin kebaktian,” ujar Hafid mengingat masa kecilnya.

Demikian juga ketika Hafid meneruskan pendidikannya di bangku SMP, ia bersekolah di SMP Kristen, Pantilang. Nuansa harmoni dalam keberagaman itu bukan hanya ia dapatkan dari lingkungan dan sekolah, namun juga dari keluarga besarnya. Ketika meneruskan pendidikannya di bangku SMA di Palopo, Hafid tinggal bersama kerabat ayahnya yang beragama Kristen. Selanjutnya ketika Hafid kuliah di AIPI Makasar, ia juta tinggal bersama kerabat ayahnya, Bapak SB. Tampang. Keluarga ini pun adalah pemeluk Kristiani yang taat.

Di Balik Perbedaan
Terlepas dari konteks agama dan keyakinan yang dianutnya, Hafid memandang bahwa manusia –apa pun profesinya– adalah makhluk ciptaan Tuhan yang memiliki hak hidup yang sama. “Toh, tujuan hidup kita akhirnya cuma satu, yaitu Tuhan. Bahwa kemudian ternyata terdapat banyak agama ataupun keyakinan itu karena karya manusia,” kata Hafid. “Saya memiliki pemikiran bahwa Tuhan pasti punya tujuan mengapa kita ini diciptakan berbeda-beda, yang jelas, kita pun harus bersosialisai di dalam perbedaan itu” ujarnya lagi.

Adanya orang yang berkarakter jahat atau baik adalah bagian dari tantangan manusia untuk merenungkan arti hidup yang dianugerahkan Tuhan kepada ciptaan-Nya. “Orang yang baik diharapkan untuk belajar memahami mengapa mereka bisa menjadi jahat,” kata Hafid. Seperti siang diciptakan untuk bekerja, demikian juga diciptakan malam untuk beristirahat. Kenyataan ada orang yang miskin, maka orang yang kaya diciptakan dengan tujuan untuk menolong dan mengangkat hidup mereka. “Kalau semuanya sama kan tidak bagus juga, tidak ada harmonisasinya. Seperti musik kalau nada ‘Do’ saja kedengarannya kan tidak indah,” ujar Hafid berfilosofi. Menurutnya, pilihan selanjutnya ada di tangan manusia. “Tidak ada yang salah dengan perbedaan, yang salah adalah bagaimana cara kita memandangnya,” tambah Hafid.

Harmoni dalam keberagaman itu bukan hanya Hafid temui dari sudut keyakinan ataupun iman seseorang. Namun juga dari sisi latar belakang budaya. Contohnya, Hafid yang berdarah campuran Bugis-Tanah Toraja ini dipersatukan dalam cinta yang kuat dengan Rahmawati yang berdarah Betawi. Bukti harmonisasi dalam nuansa perbedaan ini adalah rumah tangga mereka kian hari kian kokoh ditengah perbedaan latar belakang budaya.

Tidak hanya dapat menyikapi dengan bijak perbedaan keyakinan dan latar belakang budaya di dalam keluarganya, Hafid juga menerapkan nilai-nilai ini di dalam hubungan nyata sosial masyarakat. Kenny Wirya, serta dua bersaudara Kiki dan Dedy Suherlan yang menjadi sahabat dekatnya berlatar belakang suku Tionghoa dan pemeluk Kristen yang taat.

Antara Tugas dan Panggilan Jiwa
Kerusuhan Mei 1998 di Ibukota bukanlah peristiwa yang mudah dilupakan bagi masyarakat Indonesia. Jakarta begitu mencekam, tanpa memberikan rasa aman bagi penduduknya. Beribu-ribu korban berjatuhan, mereka mati sia-sia secara mengenaskan di dalam bara api rumah atau pabrik mereka yang terbakar. Kerugian secara materil tidak terhitung. Jakarta bagaikan neraka dunia bagi penduduknya. Diakui atau tidak oleh pemerintah pada masa itu, ada banyak sekali wanita –khususnya keturunan Tionghoa—yang menjadi korban perkosaan dan kebiadaban manusia. Tak terhitung juga banyaknya pengusaha nonpribumi yang merasa bahwa nyawa mereka terancam setiap waktu. Sebagian besar dari mereka mulai berpikir alternative untuk mencari Negara lain untuk tempat tinggal mereka yang baru.

Sementara berjaga-jaga di area istana, hati dan pikiran Hafid terus mereka-reka bagaimana keadaan para sahabatnya itu. Di istana keadaan begitu aman dengan penjagaan yang ketat, sementara Hafid sendiri tidak tahu bagaimana keadaan teman-temannya di luar sana. “Saya mengalami dilema antara tetap bertugas di istana atau pergi ke luar melihat keadaan merek,” kata Hafid. Panggilan jiwa untuk menolong begitu kuat. Hafid menguatirkan seandainya terjadi sesuatu yang buruk dengan mereka. Pasukan TNI dan POLRI terlihat silih berganti melakukan operasi. “Saya merasa seharusnya tidak berada di istana. Saya merasa tidak melakukan sesuatu bagi mereka yang memerlukan sementara saya tetap tetap tinggal di istana,” ujarnya. Setelah meminta izin dengan komandan dan melakukan koordinasi dengan anggota Paspampres yang lain, akhirnya Hafid pun segera meluncur meninggalkan istana.

Telepon rumah dan telepon selulernya tidak berhenti berbunyi dihubungi mereka yang mengharapkan bantuan Hafid. Dengan sigap sebagaimana lazimnya tentara, akhirnya Hafid memberikan jalan keluar yang bervariasi. Ada yang dia suruh mengungsi ke rumahnya terlebih dahulu di kawasan Kalibata, tetapi ada juga yang dia arahkan untuk langsung menuju ke hotel atau tempat tertentu untuk menyelamatkan diri. Yang lainnya, ada yang dia datangi langsung dengan mobilnya untuk dievakuasi. Semuanya dikerjakan dengan memperhatikan keadaan dan situasi lingkungan di mana mereka tinggal dan bagaimana mereka harus ditolong.

Hafid pun bolak-balik ke bandara Cengkareng untuk mengantar mereka yang ingin menyelamatkan diri ke luar Jakarta. Mengambil tindakan menolong ini merupakan risiko tersendiri juga bagi Hafid. “Saya cukup repot juga saat itu. Dengan mengendarai mobil seorang diri saya harus menembus kemungkinan ditahan di jalan dan dihakimi massa. Tapi saya harus menolong mereka karena mereka pasti lebih terancam daripada saya,” ungkap Hafid. Tidak ada hal lain yang menggerakkan Hafid untuk membantu kecuali rasa kemanusiaan.

Pegang Teguh Pancasila
Beragamnya kejadian yang pernah dialaminya sendiri sejak masa kecilnya di Kaki Gunung Sinaji, sampai kepada masa pengabdiannya dalam ketentaraan, Hafid pun belajar tentang isu diskriminasi ras, suku bangsa, pemberontakan, ataupun superioritas-inferioritas. Bagi Hafid, berbagai isu negatif seperti itu bisa muncul terutama karena pihak-pihak tertentu gagal untuk belajar mengenali pihak lainnya. “Contohnya, agama yang satu menganggap bahwa agamanya yang paling benar dari pada agama orang lain,” ujarnya. Contoh lain yang diungkapkannya adalah adanya sekelompok umat yang memandang ucapan selamat hari raya kepada umat beragama lain sebagai sesuatu yang haram. “Sesungguhnya kita tidak boleh menghakimi orang lain salah dan kita yang benar,” ujar Hafid. Menurutnya, kalau satu sama lain bisa mengenal lebih dalam, maka justru masing-masing akan melihat persamaan di balik perbedaan. “Tuhan menciptakan keberagaman menjadi sebuah harmoni yang indah, mengapa manusia justru melihatnya sebagai kotak-kotak yang memisahkan satu dengan yang lain?” ujar Hafid. Oleh sebab itu, supaya dapat hidup rukun dan damai, maka diperlukan dialog ataupun diskusi antargolongan. Dengan berdiskusi, satu sama lain dapat saling bertukar pikiran dan mengenal lebih dalam. “Tak kenal maka tak sayang,” ujarnya.

Hafid menilai, bahwa Pancasila adalah ideologi yang paling tepat untuk dipertahankan demi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Menurutnya, hanya Pancasila yang dapat mengakomodir dan menyatukan keberagaman di dalam tubuh bangsa Indonesia.

“Setiap warga negara Indonesia berhak mendapatkan kebebasan di dalam menjalankan ibadahnya sesuai dengan keyakinannya masing-masing,” tegas Hafid. Menurutnya, negara perlu memberikan jaminan keamanan dan perlindungan kepada setiap warga negara. Karena Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah Negara kebangsaan di dalam Bhinneka Tunggal Ika, maka tidak boleh ada dominasi mayoritas dan tirani minoritas, setiap orang mempunyai hak dan kewajiban yang sama, setara, dan merdeka.

Tinggalkan Balasan