Suatu ketika, Hafid pernah berkesempatan menerima wawancara dengan sebuah media ibukota. “Hal penting apa yang telah Bapak pelajari sehingga bisa membawa Bapak kepada keadaan seperti sekarang ini?” tanya sang wartawan. Waktu itu, Hafid menyebutkan lima karakter kunci yang menurut dia justru telah meluruskan jalan hidupnya ke depan. Ke lima karakter kunci itu terbentuk dari proses hidup yang dia jalani selama ini. Dalam rentang waktu yang panjang untuk mengatasi berbagai tantangan dan rintangan, Hafid berhasil mewujudkan dirinya dalam satu pribadi yang berkemenangan.

Bersikap Positif
Hafid menilai bahwa setiap orang perlu memandang dan memperlakukan segala sesuatu dengan perspektif dan sikap yang positif. “Kalau kita menjadi orang yang banyak curiga kepada orang lain, maka kita akan tertinggal. Waspada itu penting, tetapi curiga yang berlebihan itu tidak baik,” ujar Hafid. Dengan bersikap positif, Hafid menilai perjalanan hidup akan terlihat lebih mudah.

Dalam caranya memimpin perusahaan, misalnya. “Ada saja karyawan yang tampak malas bekerja. Kita tidak boleh langsung menghakimi ia pemalas. Tetapi, sebaiknya kita mencari tahu apa penyebabnya dan akar permasalahannya sehingga ia tampak malas,” ujar Hafid. Contoh lain yang diberikan Hafid adalah apabila melihat ada karyawan yang cenderung lamban dalam menyelesaikan tugas. “Kita tidak boleh langsung menghakimi bahwa dia bodoh. Mungkin saja ia kekurangan informasi sehingga yang ia lakukan menjadi salah,” katanya. Intinya, Hafid memberikan pemikiran bahwa kita jangan memvonis orang lain secara negative. Karena, jika orang sudah berpikir negatif, maka perbuatan sebaik apapun hasilnya tidak akan terlihat positif. Hafid juga menyamakan pikiran negatif dengan bersikap apriori.

Pikiran dan sikap yang positif juga dianut Hafid bukan hanya dalam memberikan penilaian terhadap orang-orang lain di sekitarnya. Melainkan, dia juga menerapkannya dalam menyikapi tantangan kehidupan. “Kalau kita berpikir negatif terhadap persoalan hidup, kita akan membuat segala situasi di sekitar kita sebagai sasaran kemarahan,” katanya. Akibat terburuk dari hal itu adalah kita bisa terjerembab dalam jurang keputusasaan.

Sejak dari dalam kandungan ibunya, Hafid sesungguhnya sudah hidup dalam tekanan dan ketidaknyamanan. Dibesarkan dalam masa kanak-kanak di pengungsian, bertumbuh dalam masa sekolah yang penuh tantangan dan situasi ekonomi yang prihatin, serta berbagai kegagalan yang pernah dia alami justru tidak membuat Hafid marah dengan keadaan, apalagi frustrasi. Hafid justru memilih untuk menyikapi jalan hidupnya yang sepertinya jauh dari keberuntungan sebagai suatu tantangan yang memacu dia untuk harus berhasil. “Saya justru merasa betapa banyaknya pertolongan Tuhan dari waktu ke waktu di dalam hidup saya,” katanya. Lewat pengalaman hidup tersebut, justru Hafid melihat kemurahan Tuhan dan kebesaran-Nya dalam memberikan kemudahan demi kemudahan, dan jalan ke luar yang terbuka dalam setiap persoalan.

Dengan mengembangkan pikiran dan sikap yang positif di dalam kehidupan sehari-hari, Hafid justru mengerti arti senantiasa mengucap syukur kepada Tuhan di dalam segala keadaan.

Dapat Dipercaya
Menjadi orang yang dapat menerima suatu kepercayaan adalah hal yang sangat indah. Namun, proses menuju hal itu bukanlah suatu hal yang mudah. Hafid memulainya dengan belajar menerima tanggung jawab sekecil apa pun, dan melakukan bagian yang dipercayakan kepadanya dengan benar.

Tidak hanya satu atau dua kali Hafid mendapat kepercayaan penting. Di masa awal pembelajarannya tentang kepercayaan, Hafid pernah menenteng uang dalam jumlah yang sangat besar, sementara ironisnya, di saku dia sendiri dia sedang tidak memiliki uang. Acap kali dia dipercaya untuk memegang berlembar-lembar cek dan uang puluhan atau ratusan juta dalam tas sementara menemani sahabat-sahabatnya. Hafid belajar untuk tidak silau dengan kemilau uang yang ada dalam genggaman tangannya. Dia melakukan sebatas kewajiban sebagai orang kepercayaan.

“Untuk dapat dipercaya, kita harus menjadi orang yang jujur, bahkan sejujur-jujurnya,” ujar Hafid. “Misalnya, dalam menyelesaikan tugas, kalau kita tidak bisa, maka kita bilang terus terang bahwa kita tidak bisa. Kalau menghadapi kendala, kita ungkapnya apa saja kendalanya. Dengan demikian, kita menjadi orang yang terbuka,” ungkap Hafid. Bagi Hafid, dapat dipercaya juga berarti tahu bagaimana menjalin hubungan dalam berkomunikasi secara baik.

Bagi Hafid, kepercayaan adalah harta karun yang harus selalu dia jaga bahkan ditingkatkan kualitasnya. “Seseorang yang menerima amanah dan tanggung jawab haruslah bisa mengemban dan memeliharanya sebaik mungkin,” kata Hafid. Salah satu unsur yang harus dipelihara dalam memegang prinsip kepercayaan adalah belajar menjadi orang yang dapat menjaga rahasia.

Dalam profesinya sebagai Paspampres, dia menerima kepercayaan bertugas di Istana Negara selama kurang lebih dua puluh tahun. Dia juga menjadi supir kehormatan Presiden selama belasan tahun. Hampir semua bidang tugas kedinasan di lingkungan Istana Negara pernah Hafid alami, baik sebagai Pengawal Istana, Pengamanan Khusus, Pengawal Khusus, Pengawal Bermotor, atau Pengawal Pribadi. Bagi Hafid, pengalaman tersebut memberi arti tersendiri dalam membangun jati dirinya sebagai orang yang dapat dipercaya.

Pekerjaan menjadi sopir tampaknya sepele. Tetapi, terpilih menjadi supir bagi orang nomor satu di bangsa ini adalah hal lain. “Ini sungguh merupakan kebanggaan tersendiri buat saya karena untuk menjadi sopir kepresidenan itu tidak gampang. Yang dipilih adalah yang terbaik dalam bidang keterampilan membawa mobil. Jadi selama Pak Harto, Habibie, sampai sekarang baru ada tiga orang supir,” ungkapnya.

Hafid mengatur waktunya sedemikian rupa untuk mempertahankan kepercayaan pihak lain atas dia. Kegiatan yang dia rintis untuk membangun masa depannya dikelola dalam waktu-waktu luangnya ketika dia tidak berdinas. Dia tetap berupaya mempertahankan profesionalismenya dalam kedinasan, dan di sisi lain dia berjuang merintis mimpinya agar terwujud. Syukurlah hal itu dapat berjalan seiring.

Ada salah satu pengalaman unik yang pernah dialaminya dalam mengemban kepercayaan dari para sahabat untuk masalah keamanan. Oleh karena persaingan bisnis, karyawan perusahaan sahabatnya sempat mengalami kasus penyanderaan.

Peristiwa penyanderaan itu terjadi di suatu pagi pada tahun 1992. Sore harinya, Hafid diminta untuk membebaskan karyawan tersebut. Hafid segera mendatangi sebuah gedung bertingkat di jalan Wahid Hasyim, Jakarta Pusat. Mulai dari lantai satu sudah terlihat beberapa body guard berjaga-jaga, sementara itu, berdasarkan informasi yang diperolehnya, sandera sendiri berada di lantai tiga.

Ketika memasuki lantai satu, sekalipun para body guard melihatnya, Hafid dapat dengan mudah menaiki lift ke lantai tiga. Mungkin mereka segan dengan postur tubuhnya yang tidak jauh beda dengan para body guard tersebut. Sampai di sana, Hafid pura-pura menanyakan nama orang yang sedang disandera tersebut. Tanpa curiga para body guard menyebutkan dan menunjuk orangnya. Hafid segera memanggil sang sandera, seraya membawanya turun ke lantai satu. Tanpa menunggu lebih lama, sandera tersebut dapat dengan mudah dibawanya dengan taxi, sementara para body guard belum menyadari. Mereka tergagap-gagap belakangan, karena merasa telah kecolongan. Peristiwa penyanderaan dan pembebasan itu pun berakhir tanpa menimbulkan korban sedikit pun.

Integritas
Di mata Hafid, integritas diartikan sebagai orang yang dapat diandalkan. “Misalnya jika kita diberi tanggung jawab untuk menjaga rumah, maka kita harus bertanggung jawab menjaga rumah tersebut seperti rumah kita sendiri,” ujar Hafid memberi contoh.

Diakui oleh Hafid, salah satu karakter dasar yang dia pegang ini tidak lepas dari pengaruh lingkungan yang membentuknya, terutama lingkungan tentara. Hafid telah mengemban tugas sebagai anggota Paspampres selama dua puluh tahun lebih. Selama itu dia berusaha untuk setia kepada tugasnya. Jika dirunut, kesetiaan Hafid dalam melakukan tugas-tugasnya didasarkan pada rasa syukur atas ketercapaian cita-citanya menjadi seorang tentara.

Prinsip di militer yang mengatakan lebih baik bersimbah keringat pada saat latihan daripada bersimbah darah saat perang, benar-benar mempengaruhi cara berpikir dan bertindaknya. Untuk segala sesuatu, Hafid selalu berusaha melakukannya dengan sebaik mungkin. ”Sebab jika dilakukan dengan setengah hati, maka sama saja sedang mempermalukan diri sendiri,” ujar Hafid.

Karakter ini diterjemahkan Hafid sebagai kesediaan untuk bekerja secara total dan di atas standar yang ditentukan. Dengan kata lain, integritas menunjuk adanya kesatupaduan antara niat, pikiran, perkataan, dan perbuatan seseorang. Misalnya, jika seseorang mengatakan bahwa harus jujur, maka dalam tindak-tanduknya, dia pun harus menampakkan kejujuran tersebut. Integritas semacam inilah yang membuat orang lain akan menaruh hormat dan kepercayaan kepadanya. Dalam mengembangkan usahanya, Hafid menilai integritas sebuah perusahaan sangat menentukan tingkat keberhasilan perusahaan tersebut. Makin tinggi integritas sebuah perusahaan, maka makin besar pula kepercayaan yang ditanamkan orang lain. Keberhasilan hanyalah merupakan dampak dan akibat dari sebuah integritas.

”Saya menyukai Hafid sebab di dalam bergaul dia bukannya menjatuhkan kawan, tetapi sebaliknya selalu berusaha mengangkat kawan,” ujar Kenny Wirya, salah satu pengusaha dan pengurus Yayasan Bina Bangsa Unggul berbicara soal integritas Hafid. Ungkapan bernada positif tersebut dilontarkan Kenny sebab ia mendapatkan hubungan yang saling bersinergi dan memberikan manfaat selama bergaul dengan Hafid.

”Jika saya ingin berhubungan atau berbisnis dengan seseorang dan kebetulan Hafid tahu orang itu tidak baik, maka secara obyektif dia akan menyampaikan untung rugi berbisnis dengan orang tersebut. Tidak jarang pula, Hafid menunjukkan jalan kepada kami agar sebuah peluang bisnis yang sedang d kerjakan bisa tercapai,” ungkap Kenny yang mengenal Hafid sejak tahun 1992.

Hafid menjaga integritas dirinya dengan senantiasa bersikap hormat, santun, jujur, dan tulus kepada para sahabat dan relasinya. Sikap-sikap inilah yang membuat Kenny dan kawan-kawannya dengan senang hati mau mendukung Hafid ketika dia mengutarakan niatnya memulai bisnis di bidang penyedia tenaga keamanan.

”Kami sangat surprise ketika Hafid mengutarakan niatnya ingin terjun ke dunia entrepreneur. Dia kan seorang tentara yang tidak pernah belajar bisnis, tetapi mau terjun ke bisnis. Apalagi dia katakan, semua ini dia lakukan karena ingin membantu orang-orang yang berpendidikan rendah. Kami pikir ini amat selaras dengan misi Yayasan Bina Bangsa Unggul yang ingin memberdayakan orang kecil agar hidupnya menjadi lebih baik. Jadi kombinasi antara sikapnya yang baik dan misi sosialnya ini, membuat kami tidak ragu untuk mendukung Pak Hafid,” tandas Kenny.

Hafid secara sederhana menunjukkan nilai terbesar di balik ketulusan, kesetiaan, dan kejujuran kepada diri sendiri maupun kepada orang lain. Inilah hasil pembelajaran dari pengalaman pribadi dan dari orang lain.

Memelihara Relasi
Pepatah klasik Cina mengatakan, “Seribu teman terlampau sedikit, satu musuh sudah terlalu banyak.” Begitulah Hafid mendasari pemikirannya tentang kehidupan. “Sedapat-dapatnya, hiduplah berdamai dengan semua orang,” kata Hafid. “Kita harus mempertimbangkan orang lain untuk kepentingan yang sama. Pihak yang satu dan yang lainnya harus menjalin kerjasama sebaik mungkin untuk menghasilkan hubungan yang saling memberi manfaat,” ujar Hafid.

Dalam kehidupan sehari-hari, Hafid selalu berusaha menjalin pertemanan dengan segala lapisan masyarakat.“Kita harus bisa bergaul dengan semua golongan,, mulai yang dari terbawah sampai ke tingkat atas,” ujar Hafid yang memiliki teman mulai dari kalangan anak jalanan sampai pengusaha dan pejabat penting. “Prinsip saya dalam bersahabat, kehadiran saya harus memberi manfaat bagi sang sahabat. Sebab jika tidak, saya telah gagal menjadi sahabat yang baik,” ujarnya dengan tenang.

Dia juga penganut prinsip, “Sahabat dari sahabatku adalah sahabatku juga”. Baginya, persahabatan harus menembus aneka batas dan melebur perbedaan yang ada dalam harmoni saling memahami. Menurutnya, untuk memelihara relasi, seseorang dapat bersikap supel tanpa harus kehilangan identitas diri.

Dalam membangun relasi, Hafid juga menekankan kunci pentingnya cara berkomunikasi yang baik. Dia mempelajari hal itu dari berbagai seminar motivasi dan kepemimpinan yang pernah dia ikuti. Belajar seni mendengarkan, dan bukan hanya pandai berbicara. Dia belajar untuk menjadi pendengar yang baik terlebih dahulu, sebelum mengambil keputusan atas sesuatu.

Prinsip ini dia terapkan dalam menjalin hubungannya dengan para staf dan karyawan MPM. “Saya menempatkan diri saya sebagai kepala rumah tangga di perusahaan ini. Kita harus mendengarkan apa saja keluhan dan kendala-kendala yang mereka hadapi serta apa saja yang menjadi kebutuhan dalam hidup mereka. Selain itu, kita harus memahami karakter mereka masing-masing,” ujar Hafid. Perkataan itu merupakan buah yang dia peroleh dari teladan yang diterimanya semasa kecil ketika Hafid mendampingi ayahnya yang bertindak sebagai Kepala Kampung pergi berkeliling kampung.

Untuk memelihara agar hubungan dan atmosfer di perusahaannya berkembang dengan sehat, jika hari libur maka Hafid dan karyawannya mengadakan acara Family Gathering. Atau jika bulan Ramadhan tiba, maka mereka mengadakan acara buka puasa bersama, dan program-program kekeluargaan lainnya.

Dengan memelihara relasi, Hafid tidak pernah merasa sepi atau sendirian ke mana pun dia pergi atau di mana pun dia berada. Lewat hal itu pula, dia praktis tidak mengalami kesulitan untuk mengatur supply tenaga kerja ke berbagai instansi maupun pribadi. Semuanya karena keluwesannya dalam bersosialiasi dan luasnya pergaulan dia.

Lebih jauh lagi, Hafid menilai tentang memelihara relasi tidak sebatas hanya dalam hubungan antarmanusia. Dia juga menganjurkan suatu hubungan yang harmonis dengan alam dan lingkungan di mana kita berada. “Kalau kita bersahabat dengan alam, maka alam pun akan bersahabat baik dengan kita,” ujarnya sambil tersenyum.

Suka Menolong.
Oleh karena Hafid banyak mengalami pertolongan Tuhan dalam proses hidupnya melalui orang-orang lain di sekitarnya, maka Hafid pun sadar bahwa dia sedapat mungkin harus menolong orang lain juga. Dia berusaha untuk melakukan hal sama yang pernah diterimanya dari orang-orang lain dalam kehidupannya.

Menolong orang, bagi Hafid, bukan melulu berwujud materi. Jika hidupnya bisa memberi manfaat bagi orang lain, Hafid menilai bahwa dia sudah menolong orang tersebut. Melalui MPM dan Payung Sutra, Hafid dapat mewujudkan mimpinya untuk dapat menolong orang lain sebanyak mungkin. Bukan hanya itu, MPM tidak hanya menjangkau karyawan yang bernaung di dalamnya, tetapi juga keluarga karyawannya. “Kita dapat menolong masyarat di sekitar kita dengan cara membuka lapangan kerja. Kita lihat usaha apa yang cocok guna memberdayakan manusia yang ada di sini. Artinya, kita tidak harus selalu memberi ikan kepada orang, tetapi berilah kail atau jala agar orang tersebut dapat menjaring ikan,” ujar Hafid.

Contoh lain yang perihal memberi pertolongan adalah dalam hal berpartisipasi membangun rumah ibadah atau sarana dan prasarana lainnya. Membantu pembangunan rumah ibadah ataupun membangun sarana umum sesungguhnya ikut membantu membangun kehidupan rohani dan spiritual masyarakat. “Tidak usah yang jauh-jauh, misalnya jalan dekat rumah dan lingkungan di mana kita tinggal. Dengan demikian kita dapat melewati jalan yang baik,” jelas Hafid.

Belajar menolong orang lain itu sesungguhnya perbuatan sederhana dan dapat dimulai dari perkara-perkara kecil. Modal untuk menolong orang lain berangkat dari apa yang kita miliki. “Kalau kita melihat orang susah, kita harus menolong mereka sesuai dengan kemampuan dan kesanggupan kita,” ujar Hafid yang masih terus belajar di bangku pendidikan formal sekalipun usianya sudah melampaui setengah abad. Sejak tahun 2004 Hafid tercatat sebagai mahasiswa di Sekolah Tinggi Ilmu Keguruan dan Pendidikan Purnama – Jakarta. “Kita tidak boleh berhenti belajar karena belajar itu kan untuk menambah ilmu. Sampai kapan pun kita masih harus terus belajar karena belajar tidak mengenal usia,” ujar Hafid.

Miliki Benih yang Baik
Setiap benih yang baik mustahil menghasilkan buah yang buruk. Pentingnya memiliki karakter yang baik adalah dasar yang terpenting guna mewujudkan pribadi yang kuat sehingga berhasil. “Keberhasilan atau kesuksesan bukanlah suatu tujuan, tetapi buah dari benih karakter yang baik. Kalau karakter dasar kita baik, maka mudah bagi kita untuk menemukan keberhasilan di depan sana,” ujar Hafid. Dia masih menerawang, memandang ke depan, untuk masa pensiun di hadapannya. Dia tahu sekarang, pensiun bukan semata-mata berhenti dari jalur kedinasan lalu mengisi hidup dengan kebingungan, kuatir, atau ketakutan; melainkan, dia sudah memiliki pilar-pilar dasar yang kokoh. Masa pensiun di hadapannya akan diisinya dengan hari-hari yang juga penuh tantangan hidup, namun Hafid yakin, dia punya peluang untuk memberi hidup yang bermanfaat bagi masyarakat. Menjadi pengayom, menjadi pelindung. Hafid telah membangun jati diri dalam jiwa enterprenuership yang kokoh sepanjang hidupnya.

Tinggalkan Balasan