Tahun 1992, salah seorang teman Hafid, yang bernama Alex, memperkenalkan Hafid kepada Yan Yahya, yang memiliki kerabat yang baru saja pulang dari luar negeri. Mereka adalah kakak-beradik Kiki dan Dedy Suherlan. Dari pertemuan tersebut, Hafid beroleh peluang untuk membantu mereka dalam memberi jasa konsultasi kemanan. Dalam pertemuan berikutnya, selain Kiki dan Dedy, hadir juga Kenny Wirya. Di mata Hafid, ketiga pengusaha muda tersebut seperti tiga serangkai yang kompak.

Bagi Hafid, ketiga pengusaha muda sukses ini berbeda dari para pengusaha lainnya yang pernah dia kenal. “Saya sudah banyak mendampingi para pengusaha yang sukses. Jadi, saya tahu kebiasaan mereka dan gaya hidup mereka sehari-hari,” ujar Hafid. “Tanpa bermaksud menghakimi, sebagian besar pengusaha kita tidak jauh-jauh dari tempat hiburan dan tentu saja… wanita! Tetapi selama saya mendampingi ketiga pengusaha muda ini, saya melihat mereka berbeda. Saya belum pernah melihat mereka pergi ke tempat-tempat hiburan. Waktu mereka diisi dengan hal-hal yang bernilai positif, seperti berolahraga, ke gereja dan terlibat di dalam aksi sosial. Dari pengamatan dan pengalaman saya selama menjadi konsultan keamanan pada beberapa pengusaha, saya menarik pelajaran bahwa pergaulan yang buruk dapat merusak kebiasaan yang baik,” katanya.

Hafid memilih untuk mencari pergaulan yang baik, dan hal itu ditemukannya lewat pertemanan dengan Kiki, Dedy, dan Kenny. Gaya hidup positif yang Hafid temukan dalam diri Kiki, Dedy, dan Kenny menjadi satu pemacu baginya untuk belajar banyak dari mereka, sekalipun usia mereka jauh lebih muda dari Hafid. Selain belajar mengenai pergaulan, Hafid justru mendapatkan pengalaman berharga lain soal berwira-usaha.

Suatu hari, ketika menemani mereka menyisir hijaunya lapangan golf, Hafid berujar, “Jika kelak sudah pensiun, saya tidak mau hanya menjadi seorang supir atau pun tenaga keamanan.” Mereka bertanya, “Kenapa?” “Karena kalau demikian, saya tidak dapat menolong hidup orang banyak yang ada di belakang saya. Penghasilan saya hanya cukup untuk keluarga saya saja, itupun mungkin sangat terbatas.” Hafid menggambarkan keluarga besarnya di kampung yang juga membutuhkan bantuan. “Jadi, apa rencana, Bapak?” tanya mereka. “Saya ingin belajar merintis suatu usaha. Karena latar belakang saya di bidang keamanan, bagaimana menurut Bapak-Bapak seandainya saya membuka suatu pelayanan penyedia tenaga security?” Sambil mengacungkan jempol tanda setuju mereka menjawab, “Nah, itu cocok. Bagus sekali!”.

Sudah sejak lama, memang, Hafid memperhatikan layanan penyedia tenaga keamanan sebagai peluang bisnis yang bakal memiliki prospek baik di masa mendatang. Sewaktu ia menjadi tenaga konsultan keamanan di sebuah perusahaan pada tahun 1992, dia menyaksikan bagaimana rekan kerjanya itu terus mencari tenaga keamanan bagi perusahaan maupun bisnis mereka yang sedang berkembang. Selain itu, dia juga mencermati menjamurnya pusat-pusat bisnis dan belanja di Jakarta, gedung-gedung pabrik dan perkantoran yang baru, sehingga Hafid yakin bahwa usaha ini adalah pilihan yang tepat. ”Saya juga berpikir, dengan mengembangkan bisnis semacam ini, saya dapat membuka lapangan pekerjaan bagi anak-anak mudah yang berpendidikan terbatas, seperti sanak keluarganya di kampung,” ujar Hafid.

Inspirasi Di balik Nama
Nama pemberian orang tua memang merupakan wujud doa dan harapan. Doa dan harapan orang tua yang disematkan di pundak sejak Hafid lahir mulai terwujud ketika dia diterima sebagai TNI AD. “Saya adalah hamba Allah yang memberi perlindungan kepada sesama,” kata Hafid tegas. “Sebagai seorang abdi negara, saya memiliki tanggung jawab untuk melindungi, mengayomi, dan memberi rasa aman bagi masyarakat,” tambahnya lagi. Namun, bagi Hafid, kekuatan di balik nama itu tidak hanya berhenti pada pengabdiannya sebagai seorang tentara. Dia berharap, nama itu bisa memberi inspirasi untuk merambah ke bidang lain selepas masa pensiun nanti.

Sebagai seorang abdi negara, Hafid memang memiliki tanggung jawab utama untuk melindungi, mengayomi, dan memberi rasa aman bagi masyarakat. Bahkan dia punya kerinduan agar panggilan itu terus hidup dalam karya nyata, bukan hanya sebatas dalam pengabdiannya di kemiliteran. Itu sebabya dia mulai merajut angan-angannya untuk masa sesudah pensiun.

Syukurlah bahwa Kiki, Dedy, dan Kenny yang telah menjadi panutan dan sahabat Hafid ternyata mendukung sepenuhnya. Mereka bukan saja meresponi bahwa ide itu baik karena sesuai dengan keahlian Hafid, tetapi juga melihat peluang dari kebutuhan pasar untuk mendapatkan dukungan tenaga keamanan yang dapat dipercaya yang dikelola oleh orang yang andal. Apalagi, lewat kegiatan tersebut terbuka peluang untuk menampung banyak tenaga kerja sehingga dapat memberi kontribusi kepada pemerintah untuk mengurangi angka pengangguran pada usia produktif.

Mengembangkan Payung Sutra
Lewat Yayasan Bina Bangsa Unggul, akhirnya Hafid memperoleh dana awal untuk merintis cita-citanya. “Bagi saya, yayasan ini memiliki kepedulian tinggi dan sungguh-sungguh mendukung saya bukan hanya secara finansial, tetapi juga dukungan moral dan profesionalitas untuk memulai suatu usaha,” ujar Hafid. Berkat dukungan yang dia terima dari Yayasan Bina Bangsa Unggul Hafid dapat membeli beberapa perabot kantor, komputer dan perlengkapannya, serta merekrut dua staf, plus dokumen legal untuk ijin usaha.

Dengan nama PT Mitra Pratama Milenia proyek awal ini mulai berjalan pada 27 Januari 2000. Sesuai dengan jiwa seorang Hafid, berhasilnya merintis usaha dalam wujud PT ternyata tidak membuat dia puas. Mengapa? “Saya masih gelisah dalam jiwa merenungkan bagaimana agar berhasil mengembangkan payung untuk misi sosial,” ujarnya. Ada begitu banyak keluarga, tetangga, dan orang-orang lain di sekitarnya yang sungguh-sungguh perlu diangkat dan ditingkatkan taraf hidupnya. “Kalau hidup kita berkekurangan, maka kita akan menghadapi kendala di dalam menolong orang lain. Tetapi jika kita memiliki kehidupan keuangan yang mapan, maka akan lebih mudah berbagi dengan sesama,” ujar Hafid. Mengelola sebuah PT, sekalipun baru dalam tahap awal adalah pintu gerbangnya, tetapi bagi Hafid, itu belumlah cukup. Hafid merasa butuh untuk memiliki kendaraan yang lain untuk mewujudkan mimpinya. Sebuah perusahaan lebih berbunyi untuk sisi bisnis dan profit, tetapi Hafid juga butuh suatu bendera lain untuk visi sosial. “Sebuah yayasan yang berkomitmen kepada fungsi nirlaba akan mampu menampung kebutuhan ini, pertama-tama tentunya bagi hidup para karyawan dan keluarga besar mereka,” kata Hafid.

Untuk tujuan tersebut, maka pada 19 April 2007, Hafid pun mengembangkan Payung Sutra. “Payung itu berfungsi untuk melindungi ataupun mengayomi, sedangkan sutra mewakili lambang kualitas dan ketulusan,” ujar Hafid menjelaskan tentang nama yang dipilihnya.. Jadi, secara keseluruhan, Payung Sutra memiliki makna “mengayomi dan melindungi dengan dasar ketulusan.” Sebagai sebuah yayasan, Payung Sutra murni didirikan dengan maksud utama untuk mengayomi para anggota dan sanak keluarganya dalam satu kultur kekeluargaan yang saling memperhatikan dan membangun.

Yayasan ini berdiri dengan visi “Dari mereka, oleh mereka dan untuk mereka”. Semua staff dan karyawan PT MPM didaftarkan sebagai anggota yayasan Payung Sutra. Iuran keanggotaan hanya sebesar Rp.5000,- per bulan. Dana yang terkumpul dari iuran tersebut dialokasikan untuk membantu keluarga mereka sendiri, seperti santunan kesehatan atau kematian. Jumlah anggota yang tercakup dalam Yayasan tidak terbatas hanya kepada keluarga inti, seperti suami, isteri, dan anak saja, tetapi boleh mengikutsertakan saudara kandung, orang tua, ataupun mertua. Santunan yang diperoleh bisa mencapai kisaran Rp.500.000,- s/d Rp. 1.000.000,-

Selain fasilitas dari yayasan, karyawan dan staf MPM masih berhak menikmati fasilitas asuransi dari PT Jamsostek yang disediakan dalam kerja sama dengan MPM sendiri. Sungguh suatu kepedulian yang nyata terhadap kehidupan karyawan. Hafid menerima kemurahan atas hubungan baik dengan mentor-mentornya dan para sahabat lain, Hafid menyalurkan kemurahan itu kepada staf dan orang-orang yang bernaung dalam kepemimpinannya.

Dari 12 menjadi 500
Hafid merintis usahanya dari rumah tinggalnya di daerah Kalibata. Dengan merekrut 12 orang, mereka berusaha untuk memberi pelayanan yang profesional. Gambaran kegiatan dan rencana beberapa waktu ke depan pun dirancangnya. Ibarat sebuah Business Plan, Hafid membuat skenario perintisan dan pengembangan usaha. Tercakup di dalam kerangka kerja itu adalah proyek pelatihan, pengembangan potensi, karakter, dan tanggung jawab. Termasuk di dalamnya pengadaan paket pelatihan militer untuk tenaga keamanan, pembekalan tenaga bela diri, bahkan sampai kepada pembinaan spiritual.

Sebelum seorang tenaga security terjun ke lapangan, mereka harus melampaui satu fase pelatihan sebanyak 232 jam. Pembinaan dilakukan dalam koordinasi dengan TNI dan Kepolisian RI. Kegiatan dilakukan di Lido dan Rindam Jaya, sampai mereka dinyatakan lulus dengan sertifikat, KTA Security, dan buku saku dari Mabes POLRI. Selain program dasar, mereka juga ditunjang oleh program pelengkap seperti outbond, karate (Inkai), kelas menembak, investigasi, dan pelatihan-pelatihan pendukung lainnya yang diperlukan.

Hafid tidak mensyaratkan pendidikan tinggi sebagai dasar rekrutmen anggota. Minimal pendidikan SMP sudah dapat diterima dalam tim Hafid. Dia memilih untuk menampung anak-anak muda putus sekolah yang mau dan dapat dibina untuk dibentuk. Siapa pun bisa mendaftar sebagai anggota. Karena keterbukaan dan ketulusan tersebut, Hafid akhirnya dapat merekrut banyak anak muda yang berpotensi untuk memperoleh pekerjaan yang layak dan tanggung jawab yang sesuai.

Dari satu perusahaan ke perusahaan lainnya yang membutuhkan bantuan pengamanan, akhirnya Hafid dapat menyalurkan banyak anak muda yang tadinya tidak memiliki status dan pekerjaan yang jelas menjadi anak-anak muda yang berprofesi dan berkarakter. Jumlahnya kini bukan lagi 12 orang. Ratusan orang telah dibina dan disalurkannya. Ke depannya, MPM tidak hanya focus kepada menyalurkan jasa keamanan, tetapi juga cleaning service, escort service, baby sitter, office boy, house maid, pramuniaga, dan driver.

Yang ditawarkan Hafid dari pelayanannya adalah benefit langsung seperti: meminimalkan proses rekrutmen petugas keamanan yang memakan waktu, mengurangi investasi tambahan dalam membina petugas keamanan, menetralisasi keberpihakan petugas keamanan kepada salah satu pihak dalam perusahaan, kecepatan dalam penggantian security apabila dibutuhkan, tingkat kemampuan dan keterampilan yang terlatih, adanya Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek), serta adanya sistem dan jaringan koordinasi terpadu antara instansi yang terkait dalam pengamanan. Bahkan tidak hanya itu, usahanya pun berkembang kepada penyediaan jasa outsourcing pengamanan, jasa konsultasi pengamanan, jasa penyelenggaraan pelatihan dan jasa pengamanan VVIP.

Ada cukup banyak nama perusahaan besar yang menjadi klien mereka, antara lain: PT Golden Retailindo, Bank BNI, PT Arthaasia Finance, PT Gramedia Group, PT Ghalia Indonesia, PT Artha Prima Finance, PT Dipa Pharmalab Intersains, PT Trisula Group, PT Fulisemitex Jaya, PT Yuda Teruna, PT Pyridam Farma Tbk, PT Pan Pasific Oto Finance, PT Esagaya Duakarya Cantika, PT Puspa Eka Pradiantara, PT Uniflex, Hotel Grand Mahakam, Akademi Sekretaris/ LPK Tarakanita, Yayasan Karisma Bangsa, Yayasan Media Buana Indonesia dan Lembaga Pendidikan Pribadi.

Kalau merenungkan proses awalnya, Hafid menilai bahwa apa yang dia buat tidak ada artinya apabila tidak diawali dari titik yang benar. “Saya melihat bahwa pentingnya memiliki hubungan dan menjaga hubungan yang benar dengan orang-orang yang tepat adalah kunci keberhasilan saat ini,” kata Hafid.

“Saya tidak pernah membayangkan sebelumnya, bahwa bersahabat dengan Kiki, Dedy dan Kenny memberi saya peluang untuk mengerti dunia usaha yang begitu luas,” kata Hafid menambahkan. Dukungan mereka bukan hanya sebatas dukungan moral dan finansial pada tahap awal, tetapi juga berbagai kiat berwirausaha dan mengelola tim. Sekaligus, mereka jugalah yang menjadi pelanggan Hafid yang pertama.

“Mereka adalah sahabat yang menaruh kasih di setiap waktu dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran,” ujar Hafid.

Hubungan dengan teman-teman dari kalangan dunia usaha telah membantu Hafid untuk memperluas wawasan berpikirnya. Sahabat-sahabat terdekatnya sekaligus bertindak sebagai mentor bagi Hafid. Bimbingan manajerial, pengelolaan keuangan, serta kepemimpinan dalam usaha dipelajari Hafid dari pergaulan tersebut. “Saya sungguh-sungguh memiliki pengetahuan yang minim dan serba terbatas tentang manajemen dan dunia usaha,” kata Hafid. “Namun, lewat hubungan baik dengan para sahabat yang mendukung saya dalam merintis MPM dan mengembangkan Payung Sutera, saya akhirnya bisa mengembangkan wawasan entrepreneurship,” lanjutnya.

“Kalau kamu berhasil, kamu akan termasuk dalam bilangan yang mungkin hanya 1% jumlahnya di antara sekian banyak pengusaha muda yang merintis dari NOL,” begitu antara lain komentar yang pernah diterima Hafid dari sahabat-sahabatnya.

Bukan hanya itu, Hafid pun pandai menjalin relasi dengan kalangan TNI maupun POLRI untuk mewujudkan visinya. Hafid bukan semata-mata memanfaatkan kemudahan jaringan karena dia masih berstatus sebagai tenaga militer, tetapi dia memang jeli melihat peluang untuk bertindak sebagai fasilitator dan katalisator di antara anak-anak muda pengangguran, pengusaha yang membutuhkan jasa keamanan, serta peraturan pemerintah yang mengharuskan keterlibatan TNI/POLRI untuk bidang ini. Dia berada di antara hubungan-hubungan yang bisa dijalin menjadi suatu hasil yang produktif dan andal.

Memang, memelihara hubungan dan memiliki jaringan yang baik dan benar adalah kunci untuk berhasil dalam membangun mimpi. Hafid pun sudah membuktikannya. Dan dia, tentunya layak menikmati buahnya.

Tinggalkan Balasan