Meskipun Hafid sudah menempuh pendidikan di AIPI, impiannya untuk menjadi tentara tidak pernah surut. Tahun berikutnya, Hafid mencoba kembali untuk mengikuti tes AKABRI. Beberapa tes sudah dilaluinya, bahkan hingga ke Magelang pun dikejarnya. Dengan biaya yang tidak sedikit, waktu yang dilewati, serta enerji yang terkuras… Hafid tidak berhasil merangkai mimpinya. Kali ini, dia gagal lagi. Hafid tidak menyerah. Tidak patah semangatnya, Hafid melihat peluang lain dalam jalur ketentaraan. Tekadnya memang belum berubah. Menjadi tentara!

Dia pun mencoba mendaftar sebagai siswa di sekolah prajurit di Makasar, yaitu di Sekolah Calon Tamtama. Kalau berhasil diterima, dia akan mulai dengan pangkat Prajurit Dua. “Meskipun mulai dari Prajurit Dua tidak apa-apa, asal jadi tentara. Tapi saya ditolak oleh pegawai pendaftaran. Katanya pendidikannya terlalu tinggi, sebab untuk menjadi seorang Prajurit Dua lulus SD saja cukup,” kenang Hafid mengingat awal perjuangannya menjadi seorang tentara. Namun, ada alternatif yang ditawarkan kepadanya pada waktu itu, yaitu untuk menunggu saat ujian Sekolah Calon Bintara yang akan diadakan beberapa waktu ke depan. “Kalau melalui jalur AKABRI saya gagal terus, kali ini saya akan mencoba melalui jalur SECABA saja,” kata Hafid.

Sejak saat itu Hafid selalu mencari tahu waktu ujian masuk tiba. “Ketika tiba saat pendaftaran, saya langsung mendaftar dan mendapat nomor pendaftaran 035. Di amplop pendaftaran sudah tertulis “Ex – Calon Taruna”, ujar Hafid. Beberapa tes yang pernah diikutinya baik ketika di Makasar maupun di Magelang memberikan satu kemudahan tersendiri bagi Hafid.

Setelah mengikuti serangkaian tes dan seleksi yang sangat ketat akhirnya Hafid diterima. “Alhamdulilah… Saat itu yang diterima hanya 30 orang dari 500 orang yang ikut seleksi,” kenang Hafid. Lewat program pendidikan SECABA, maka impian Hafid untuk menjadi seorang tentara pun mulai terwujud.

“Tetapi di hati kecil saya, saya masih menyimpan keinginan yang kuat untuk tetap masuk AKABRI,” kata Hafid lagi. Oleh sebab itu, meskipun sudah diterima di SECABA, Hafid masih mencoba lagi ikut tes AKABRI. Namun hasilnya … gagal lagi! Dari pengalaman tersebut, Hafid pun belajar bahwa tidak semua yang diinginkan dapat dicapai. “Karena itu, saya pun akhirnya belajar mengucap syukur dalam segala hal, supaya hidup lebih ringan. Lagipula, impian saya menjadi seorang tentara sudah terwujud melalui jalur SECABA,” kenangnya.

Pendidikan SECABA dilaluinya selama empat bulan di Pakatto’, Makasar. Semasa menjalani pendidikan, Hafid dan teman-temannya sudah menerima uang saku sebesar Rp.21.500/bulan. Setelah dipakai berbagai keperluan sehari-hari, sisa tabungannya dalam empat bulan adalah Rp.50.000,-. “Saya mengirim uang sebesar Rp.40.000,- kepada ayah untuk membantu biaya sekolah adik-adik yang masih kecil-kecil,” ujarnya.

Selesai mengikuti pendidikan SECABA di Makasar, Hafid mengikuti Kursus Bintara Polisi Militer di Cimahi, Jawa Barat. Waktu itu, ia terpilih sebagai satu dari sepuluh Bintara terbaik dan dapat program pendidikan tiga bulan, sebelum ditugaskan di Jakarta. Dari sinilah Hafid memulai pijakannya dalam jalur dinas ketentaraan. Mulai dari jalur Provost, Polisi Militer, Pengawal Protokoler Kenegaraan, hingga sebagai Pengawal Istana Pasukan Pengamanan Presiden pernah dilakoninya.

Sebuah Pengabdian
Menjalankan tugas sebagai anggota Paspampres dan mendapat kepercayaan mengawal orang-orang nomor wahid dengan standar pengamanan internasional sejak tahun 1982 sampai sekarang memberikan kekayaan pengalaman bagi Hafid. Mulai dari era Pak Harto sampai ke era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat ini, Hafid mensyukuri anugerah dan kepercayaan yang diembannya.

Di mata Hafid, Presiden Soeharto memberi kesan yang sangat kuat. “Pak Harto seorang yang tegas dan sangat berwibawa. Betapa pun keberadaan Pak Harto menimbulkan kontroversi, namun bagi saya, beliau tetap seorang pemimpin besar,” ungkap Hafid. “Tak banyak bicara, tetapi giat bekerja,” itulah kesan pribadi Hafid mengenai Pak Harto, dalam fase yang pernah dilaluinya semasa mengawal beliau.

Selain Soeharto, Presiden Habibie dan Gus Dur juga menoreh kesan tersendiri bagi Hafid. Pada masa pemerintahan kedua presiden ini, Hafid mendapat kesempatan untuk menunaikan ibadah haji di tanah suci Mekah. “Kalau bukan karena menemani beliau-beliau ini, dari mana saya dapat uang untuk Naik Haji?” kenang Hafid yang setia shalat lima waktu ini.

Pengalaman Naik Haji seakan menyempurnakan kebahagiaannya sebagai seorang muslim. Sebagai orang yang lahir dari keluarga dengan nuansa islami yang kental, Naik Haji adalah dambaan setiap orang. “Dengan Naik Haji saya merasa telah keliling dunia. Mengelilingi ka’bah kan sama dengan keliling dunia,” ujarnya sambil tertawa kecil.

Tinggalkan Balasan